MENANTANG IZRAIL SANG PENCABUT NYAWA

Posted by doddy rizqi Jumat, 07 Desember 2012 2 komentar
Kepahiang, 5 desember 2012

saat itu pukul 23.10 WIB...
Pasien itu sedang berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya. Air mata perlahan menetes menunjukkan si ibu benar-benar tidak kuat menahan rasa sakit. Saat visite malam saya sempat bergurau dengan si ibu, bahkan si ibu sempat tertawa mendengar guyonan saya. Tapi siapa sangka, 30 menit setelah itu, saat itu saya sedang melengkapi rekam medis pasien, terdengar teriakan si ibu yang cukup keras. Langsung saya dan 2 orang perawat mendatangi asal teriakan itu. Tak lama saya meminta perawat menyuntikan obat anti nyeri dan meminumkan obat penenang. Saya raba denyut nadi si ibu,  rupanya jantung sudah berhasil dipengaruhi oleh badai katekolamin sehingga berdegup dengan sangat kencang. Untunglah tekanan darah ibu ini masih bisa di bilang baik-baik saja, 130/80.

Ibu yang berusia 47 tahun ini datang dengan keluhan nyeri perut. Sebelumnya pernah datang ke IGD dengan keluhan sama, tetapi hanya diobati rawat jalan. Mungkin setelah beberapa hari di rumah, si ibu merasakan nyerinya kembali, lalu datang ke IGD dan dokter pun memutuskan untuk rawat inap. Ada yang cukup menarik dari pengamatan saya, yakni jempol kaki kanan ibu yang sudah tidak ada. Ketika saya tanyakan, si ibu berkata bahwa jempol kaki kanannya telah diamputasi karena penyakit gula. Pengakuan ibu itu cukup membuat saya kembali memutar otak, apakah sensasi nyeri yang dirasakan ada hubungannya dengan penyakit gula yang diderita? Sambil memutar otak saya pamit dari ibu itu dan menuju pasien berikutnya. Kata diabetes melitus dan nyeri perut saya simpan dalam memori untuk saya pikirkan ketika menulis rekam medis nanti.

Syukurlah si ibu sudah mulai tenang, rasa nyeri sudah bisa di atasi, terakhir saya lihat ke kamar beliau, ibu itu nampak pulas tertidur. Tapi saya khawatir, bisa saja rasa nyeri itu muncul lagi, jadi sebelum saya beristirahat di kamar jaga saya menyiapkan obat pereda nyeri yang cukup ampuh, biasanya obat ini dimasukkan ke dalam lubang anus. Setelah berpesan kepada perawat yang jaga, saya menuju kamar, bukan untuk istirahat, tetapi membuka ipod, mencari jawaban pertanyaan yang saya simpan di memori tadi, nyeri perut hebat dan diabetes melitus.


Ternyata dugaan saya tepat, pukul 3 dini hari, si ibu teriak kesakitan lagi, perawat langsung beinisiatif memberi obat anti nyeri yang di masukkan lewat anus. Obat tersebut untungnya cukup membantu, rasa nyeri hebat yang ada sudah tereliminasi. Saya merencanakan pasien ini untuk di konsultasikan ke dokter bedah dan dokter kandungan. Kebetulan di rumah sakit yang serba minimalis ini dapat kunjungan dokter residen bedah dari depkes, sedangkan untuk dokter kandungan sudah menjadi dokter tetap di RSUD ini. Pagi harinya saya menyempatkan diri untuk mengunjungi si ibu, walaupun masih tampak kesakitan, beliau masih sanggup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Setelah yakin kondisi cukup aman saya memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit, memang sudah saatnya jam pergantian jaga.

***

Kepahiang, 6 Desember 2012, pukul 20.00 WIB...

Hari ini saya bertugas jaga malam lagi, sesaat saya menaruh tas di ruang jaga, saya segera dipanggil oleh perawat, rupanya langsung ada pasien gawat. Ternyata ibu yang dari tadi malam nyeri hebat. Sekarang ibu itu tidak sadarkan diri, di lihat dari pola pernapasannya sudah tidak teratur, mungkin bahasa jawanya sudah megap-megap, sedangkan denyut nadi sudah hilang, tapi setelah di dengarkan denyut jantung, harapan itu masih ada. Jantung masih mampu berdenyut walaupun lemah dengan irama yang tidak teratur. Rupanya Dokter jaga sebelum saya sudah menghubungi dokter spesialis penyakit dalam via telepon. Instruksi yang beliau berikan adalah injeksi epinefrine 1 ampul melalui jalur intra vena. Sementara resusitasi jantung paru terus diberikan. Suami si ibu dan adiknya hanya bisa berdoa, izrail mungkin sudah mulai menarik ruh dari si ibu. Denyut nadi ektremitas sudah lama hilang, perlahan kaki sudah terasa dingin. Saat itu ruh sudah naik menuju kerongkongan. Tapi kami yakin, si ibu masih bisa diselamatkan, dilihat dari pupil yang masih reaktif dengan cahaya dan denyut jantung yang masih ada walapun lemah. 

Sudah lebih dari 15 menit kami bertarung melawan sang malaikat maut. Kami tidak mau kalah, syukurlah, usaha kami menunjukkan hasil. Si ibu mulai terbatuk dan perlahan mulai sadar. Apakah izrail melepaskan ruh yang tadi sudah mulai di cabutnya? Wallahu alam, Hanya Allah yang tahu, yang saya yakini takdir si ibu pada detik itu belum harus bertemu penciptanya. Pasien sudah sadar tapi kondisi masih lemah, kedua kaki yang tadi sangat dingin perlahan mulai hangat, tanda aliran darah sudah mencapai ujung jari kaki. Hanya si ibu kembali merasakan sakit. Melalui telepon dokter spesialis penyakit dalam memberikan anti nyeri dengan cara drip melalui infus. Semoga nyeri pasien berkurang dan tidak ada kejadian gawat lagi malam ini.

Rupanya si ibu tidak dikonsulkan ke bedah maupun kandungan pagi tadi. Tapi ada sedikit titik cerah, ibu itu sudah di USG, dari hasil USG menunjukkan adanya batu empedu. Bisa saja nyeri yang hebat itu berasal dari kontraksi saluran empedu. Tapi ada sedikit yang aneh, kebetulan si ibu juga dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan ada sumbatan pada pembuluh koroner, jelas terlihat perubahan gelombang EKG yang menunjukkan lokasi sumbatan pembuluh koroner. Padahal penyakit ini sangat berbahaya dan terkenal dengan silent killer. Diagnosis yang tegak adalah batu empedu, sesuai dengan terapi yang diberikan. Sementara itu saya masih yakin, pasti ada sesuatu di jantung si ibu, apalagi si ibu menderita diabetes dan hipertensi.

Keadaan cukup aman malam itu, hujan rintik-rintik turun. Udara yang awalnya terasa panas berubah menjadi dingin. Saya masih belum bisa beristirahat, agak gelisah, waktu saat itu menunjukkan pukul 23.45. Pintu kamar saya di gedor. Rupanya oleh perawat jaga. 

" Dok, pasiennya gawat lagi..." kata perawat itu
" Oke, kita ke sana" jawab saya sambil mengambil stetoskop

saya segera meminta perawat mengambil obat dan alat-alat yang dibutuhkan. Keributan yang terjadi malam itu membangunkan keluarga pasien yang tidur di koridor rumah sakit. Begitu tiba di kamar si ibu, saya menemukan beliau sudah tidak sadar, denyut nadi dan jantung nihil, sudah tidak ada, serta napasnya pun sudah tidak ada, saya cek pupil ternyata sudah midriasis maksimal. Tapi saya memutuskan untuk tetap mencoba. Bersama perawat saya memberikan resusitasi jantung paru dan menyuntikan epinefrin. sudah sekitar 30 menit kami memberikan bantuan, tapi dari rekaman jantung masih menunjukkan garis lurus. Tiba-tiba suami si ibu berkata,

"Sudahlah dokter, tidak apa-apa..." cuma itu yang bapak ucapkan. Saya agak terenyuh, wajah bapak itu begitu polos, saya tau bapak ini sedih, tapi beliau tidak mengeluarkan air mata.

Mungkin kami terlambat. Izrail kali ini menang, ruh mungkin sudah meninggalkan tubuh, sudah menemui sang pencipta. Saya akhirnya memberitahukan ke suami pasien bahwa usaha yang tim medis lakukan sudah maksimal, tetapi Allah berkehendak lain. Suami ibu itu tidak menangis dan beliau malah berterima kasih kepada saya. Seketika saya tertegun dan cuma bisa terdiam.

Hingga saya menulis cerita ini saya masih terngiang oleh si ibu dan suaminya. Khususnya kesabaran suaminya yang merawat istrinya yang tercinta. Ada satu perkataan yang saya ingat dari si bapak, saat itu sudah larut malam, sedangkan si ibu memerlukan obat pereda nyeri dan apotek di luar sudah tutup. Apotek di rumah sakit  sendiri obat-obatannya tidak lengkap, sering kali pasien harus membeli di luar.

" Tidak apa-apa dok saya harus keliling mencari obat nya, yang penting istri saya tidak kesakitan lagi " kata si bapak sambil mengambil resep dari tangan saya. Kemudian bapak itu pergi. Mungkin perkataan itu terdengar biasa. Tapi bagi saya itu adalah ekspresi kasih sayang seorang suami untuk sang istri dan itu luar biasa. 


Pernah terlintas dibenak saya, sebenarnya apa yang seorang dokter kerjakan adalah "mengganggu" pekerjaan Izrail. Kami melawan izrail yang tidak terlihat oleh mata untuk mencabut nyawa seseorang. Dengan obat dan tindakan kami bisa berhasil "menghidupkan" kembali seseorang yang sudah tidak sadarkan diri. Mungkin saat itu ruh sudah hampir terlepas dari kerongkongan tetapi dengan bantuan obat, ruh pun kembali ke dalam tubuh. Kami tidak menantang takdir. Seorang dokter tidak melawan takdir atau menantang izrail, sang pencabut nyawa. Seorang dokter hanya menunaikan tugasnya menyelamatkan nyawa seseorang yang memang belum ditakdirkan meninggal oleh Allah Subhanallahu Wa Taala.


Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa BIllah....
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: MENANTANG IZRAIL SANG PENCABUT NYAWA
Ditulis oleh doddy rizqi
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://doddyrizqi.blogspot.com/2012/12/menantang-izrail-sang-pencabut-nyawa.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 komentar:

asa ibrahim mengatakan...

Quite good kak.bakat nulis nih kayanya.mantabbb

doddy rizqi mengatakan...

trims kak,,, sekedar sharing aja keadaan disini hehehe :)

Posting Komentar

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of LONG LIFE LEARNING.