DIA (MEMANG) ADA DIMANA-MANA

Posted by doddy rizqi Rabu, 28 November 2012 1 komentar
Ritual pagi yang nikmat itu terusik dengan dering handphone butut yang terdengar dari dalam rumah. Sudah menjadi kebiasaan setelah mandi pagi yang super dingin, saya duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi panas, kadang-kadang sambil membaca berita lewat tablet. Ritual yang menurut saya cukup memompa semangat sebelum berangkat ke rumah sakit. Telpon itu datang dari perawat bangsal penyakit dalam, dengan sedikit panik, perawat itu memulai percakapan, saat itu pukul 07.30...

"Dok, dokter di mana?" tanya perawat itu

"Saya masih di rumah, ada apa bang?" jawab saya santai.

"Ini dok, ada pasien gawat, tiba-tiba hilang kesadaran, saya cari dokter jaganya tidak ada, mungkin sedang di bangsal lain, mohon dokter segera ke sini, maaf mengganggu dok"

Saya kontan kaget, tidak menyangka ritual pagi yang nikmat ini bakal "terganggu" oleh urusan rumah sakit.  "baik bang, segera beri oksigen, terus cek tanda vital pasien, bebaskan jalan napas, kalau tidak ada denyut nadi segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP), saya segera kesana" ucap saya sambil mengakhiri pembicaraan..

"baik pak" perawat itu segera menutup telepon


Saat itu memang belum jam pergantian jaga. Tugas jaga saya adalah jam 08.00 pagi, tapi jika seperti ini mau tidak mau harus segera meluncur, toh memang sudah mendekati jam kerja. Saya segera mengganti baju dan berangkat ke rumah sakit, motor pun tidak dipanasi, untunglah jarak ke rumah sakit cukup dekat, bisa di tempuh dalam waktu 7 menit.

Sampai di bangsal penyakit dalam saya mendapati banyak sekali orang. Mereka adalah keluarga dan beberapa perawat yang dinas malam dan pagi. Untunglah saat itu ada dokter jaga IGD yang sudah membantu memberikan pertolongan. Melihat saya datang, dokter tersebut langsung menyerahkan kepada saya. Saya meminta keluarga pasien untuk keluar ruangan dan meminta perawat mengambilkan obat-obatan yang diperlukan. Pasien itu sudah tidak memiliki denyut nadi dan tidak bernapas, tetapi pupilnya masih reaktif. Kami memutuskan melanjutkan RJP dan memberikan suntikan adrenalin, berharap pasien bisa sadar kembali. Sudah hampir 30 menit usaha kami, namun belum menunjukkan tanda-tanda berhasil. Peralatan di rumah sakit kecil ini sangat minim, alat untuk intubasi tidak punya, ini pun beruntung masih ada adrenalin. Adrenalin ulangan pun sudah disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Akhirnya kami memutuskan berhenti dan mengecek pupil dan EKG. Pupil sudah melebar maksimal, hasil dari EKG menunjukkan garis datar tanpa lekuk sedikitpun. Kaki pasien sudah sangat dingin. Ya, kami gagal, pasien sudah tiada. Setelah saya memberi penjelasan kepada keluarga pasien, pecah lah tangis mereka di bangsal kelas 3 penyakit dalam itu. Tangisan itu mengundang simpati pasien lain yang dari tadi memperhatikan usaha kami menolong almarhum. Manusia boleh berusaha, tapi Allah sudah menetapkan takdir untuk makhluk-Nya.

Ternyata pada pukul 07.00, mungkin saat itu saya juga sedang membuat kopi di rumah, almarhum sudah bisa berjalan-jalan di koridor rumah sakit sambil menggandeng tiang infus. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kehilangan kesadaran, bahkan si bapak sudah bisa dibilang sembuh dari penyakitnya. Tidak tau kenapa, 15 menit kemudian, saat almarhum sedang duduk di tepi tempat tidurnya, tiba-tiba merasa sesak. Keluarga segera memanggil perawat. Saat itulah saya di hubungi. 

Menurut analisa dokter spesialis penyakit dalam, yang juga hadir saat kami memberi pertolongan tadi, sebab kematian pasien adalah infark pada otot jantung, dengan kata lain adanya penyumbatan pembuluh koroner sehingga otot jantung mengalami kematian. Kematian akibat penyakit jantung memang cepat, soalnya bisa membuat sudden cardiac arrest. Almarhum juga memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol dan umurnya sudah cukup tua, 62 tahun. 

Kita mungkin tidak melihat, bisa saja izrail sedang berdiri di dekat almarhum saat tim medis memberikan pertolongan. Tidak ada yang menyangka vonis sehat seseorang bisa berubah menjadi vonis mati seketika. Karena yang memvonis adalah Allah sendiri dengan izrail sebagi eksekutornya. Kejadian ini menyadarkan saya bahwa kematian itu dekat. Membuat bulu kuduk merinding bila mengingat banyaknya dosa dan sedikit nya amal yang sudah saya kumpulkan. Sudah siapkah kita? Semoga dengan kejadian ini, khususnya saya pribadi bisa semakin taqarrub kepada Allah dan menghindari dosa-dosa, karena dia ada dimana-mana....




TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: DIA (MEMANG) ADA DIMANA-MANA
Ditulis oleh doddy rizqi
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://doddyrizqi.blogspot.com/2012/11/dia-memang-ada-dimana-mana.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice story

Posting Komentar

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of LONG LIFE LEARNING.